Simposium Kaderisasi
KADERISASI PC PMII BANYUWANGI : kebebasan untuk menjadi masyarakat yang cerdas!


"Apa yang dibutuhkan masyarakat hari ini, tidak jauh beda dengan kondisi yang dialami bangsa Arab pada lebih dari 12 abad silam; yakni kebebasan untuk menjadi masyarakat yang cerdas!Sementara itu, perebutan 'teks' atas wacana justru cenderung formalistik dalam panggung kekuasaan dan Otoritas belaka. Hal ini menjadi pemicu masyarakat terkurung dalam hegemoni yang menguntungkan segelintir orang. Sebab setiap wacana yang berujung pada kekuasaan semata, akan mengatur 'kebenaran' seenak jidat.Sebagai Nahdliyin yang mencoba untuk berpikir, perebutan wacana itu perlu dikenali dan dibebaskan. Maka Simposium tidak lain merupakan wadah untuk mengupayakan hal tersebut.Sekian pengantar ini kami sampaikan. Selasa,10 Maret 2026,13.30 WIB di Kantor LP Ma'arif. Srono"
Membaca Ulang Tradisi; Kaderisasi PC PMII Banyuwangi Adakan Simposium, Gagas Pembaharuan Wacana
Semangat rekonstruksi wacana sosial-keagamaan kembali bergeliat di kalangan generasi muda Nahdlatul Ulama (NU). Bersama puluhan kader serta Pengurus Komisariat dan Rayon, Pengurus Cabang PMII Banyuwangi adakan Simposium Kaderisasi pada Selasa (10/03), yang diselenggarakan di Aula LP Ma’arif NU Kabupaten Banyuwangi.Rangkaian kegiatan diawali dengan seremoni pembukaan, sambutan, diskusi tematik, hingga diakhiri dengan buka bersama. Kegiatan ini menjadi pembuka perjalanan Kaderisasi PMII Banyuwangi untuk mengawali fokus kinerja kaderisasi dan pengembangan wacana mereka.Dengan mengusung tema “Hayya ‘Ala at-Tajdid: Post-Tradisionalisme sebagai Paradigma Alternatif”, dalam sambutannya, Hafid Aqil (Ketua Bidang Kaderisasi PC PMII Banyuwangi) berharap PMII Banyuwangi mampu membawa ide dan gagasan alternatif di tengah wacana, dan sistem kaderisasi mainstream yang dinilai ‘perlu diperbaharui’.
“Pasca ‘rekonsiliasi politik’ NU dengan Rezim di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, dalam Mukmatar NU di Situbondo pada 1984, tokoh-tokoh muda dari kalangan Nahdliyin telah menggagas gerakan pembaharuan—Khittah 1926. Sahabat-sahabat PMII Banyuwangi perlu mengetahui bahwa gerakan ini bukan sebatas kembali kepada ‘turats’ lantas meninggalkan kenyataan sosial. Lebih jauh, gerakan ini justru membawa ‘turats’ untuk menjadi solusi konkret atas problem kekinian saat itu”. Ujarnya.Ia juga menjelaskan bahwa Post-Tradisionalisme—kajian utama simposium—akan mampu menggugat wacana yang telah mapan. “Sebagai Nahdliyin yang mencoba untuk berpikir, perebutan wacana itu perlu dikenal dan dibebaskan. Maka ikhtiar ini tidak lain merupakan wadah untuk mengupayakan hal tersebut bersama-sama” pungkasnya.
Senada dengan ketua bidangnya, Haikal Roja’ Hasbunallah (Ketua Umum PC PMII Banyuwangi) menegaskan bahwa pengembangan wacana dalam kaderisasi merupakan aspek vital. “Simposium kaderisasi ini bukan sekadar forum seremonial. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang konsolidasi gagasan, dialektika pemikiran, sekaligus refleksi bersama untuk membaca kembali arah dan masa depan kaderisasi PMII, khususnya di Kabupaten Banyuwangi.” ujarnya
“Kaderisasi merupakan jantung organisasi. Dari proses inilah lahir kader-kader yang tidak hanya memiliki militansi gerakan, tetapi juga kedalaman intelektual, kepekaan sosial, serta komitmen kebangsaan dan keislaman yang kuat. Oleh karena itu, kaderisasi tidak boleh berhenti pada formalitas pelatihan semata, melainkan harus menjadi proses pembentukan karakter, penguatan ideologi, dan penempaan kepemimpinan.” Pungkas Haikal memberi sambutan.
Sementara itu, dalam diskusi tematik, Agus H. Abdul Latif (Narasumber pertama) mengetengahkan konteks pembaruan ini sebagai problem krusial.“Nahdliyin kini seolah merasa cukup dengan khazanah keagamaan yang ada, namun, jika mau menuntut pembaharuan, muncul satu pertanyaan; apakah kita betul-betul siap untuk menerima tuntutan tersebut?” Ujar salah satu pengasuh Ponpes Manma’ul Ulum Berasan itu.“Sebagai generasi milenial yang berhadapan dengan dua generasi, yakni golongan tua dan Gen-Z” ujarnya, sambil terkekeh ringan, “saya meyakini bahwa prinsip moderat yang kini hadir sebagai manhajulfikr NU, tidak bisa kita pungkiri telah membawa banyak kemaslahatan untuk umat” lanjutnya.
Sembari mengambil contoh fenomena ke-NU-an yang belakangan terjadi, Abdul Latif, meminta generasi muda untuk semakin berhati-hati. “adopsi paradigma Barat memang pernah masif dilakukan oleh umat Islam, namun, meninggalkan ‘tradisi’ juga bukan menjadi solusi umat, melainkan justru mengikis paradigma ke-Islaman itu sendiri.” Pungkasnya memberi statement.Dalam sudut pandang lain, Mahasin Haikal Amanullah (narasumber kedua), menjelaskan bahwa Post-Tradisionalisme Islam adalah sub-kultur. “Islam itu dinamis. Sehingga dalam bahasa Post-Tradisionalisme, Islam menjadi sub-kultur di tengah kultur yang bernama ‘berbangsa dan bernegara’” ujarnya.
“Biasanya kaum post-tradisionalis, mereka mengambil contoh untuk kemudian ditransformasikan pada sebuah nilai. Sehingga mereka tidak terpaku pada teks. Makanya kaum Post-Tradisionalis seringkali mampu membaca pergerakan lebih baik dari para orang-orang neo-modernis. Lanjutnya.

